Layout by Layoutsandmor3
ladeezdafunk
read my profile
sign my guestbook

Visit ladeezdafunk's Xanga Site!

Name: Aneeta
Gender: Female


Interests: Music, Writing, Books, Novel, Hip Hop, Jamie Cullum, Outkast, Greenday, Nirvana, Cold Play, Poetry, Movie, Beavis & Butt-head, Cristiano Ronaldo, Romo Mangun, Oscar Wilde, Shakespeare, Spiderman, NAIF, Nicholas Saputra, XXL-Magz!
Occupation: journalist
Industry: newspaper


Message: message me
Website: visit my website
MSN: freudian83@hotmail.com
Yahoo: lady_mcfunky@yahoo.com
Yahoo: aneeta_mathers@yahoo.com


Member Since: 10/29/2004

SubscriptionsSites I Read
jam_being_real
LIS88
puppy_roxy
nenoneno

Posting Calendar

|<< oldest | newest >>|
view all weblog archives

Get Involved!

Suggest a link

Recommend to friend

Create a site


Sunday, December 16, 2007

splash of my day...

Fotokopi

 

APA yang salah dari fotokopi? Yah, inilah pertanyaan yang sedang ditanyakan Anita, si gadis 24 tahun, yang keki melihat raut muka wajah kawan-kawannya yang menurut dia teramat sangat menyebalkan sebab bibir-bibir mereka terangkat serba ngakak menerta-wakan sang gadis—oh lebih baik tak disebut gadis nanti kesannya seperti masih muda a-nak baru gede padahal tahun depan sudah masuk usia seperempat abad tak cocok disebut gadis mendingan disebut si dewasa muda saja—hanya, sekali lagi hanya, karena sang gadis, eh, sang dewasa muda berniat memfotokopi sebuah novel karya gilang gemilang sang penulis pujaan hatinya YB Mangunwijaya yang judulnya sungguh paradoksal penuh perang tesis-antitesis-sintesis itu: Durga Umayi.

Apa yang salah dari fotokopi? Sekali lagi sang dewasa muda bertanya dengan ram-butnya yang semriwing ditiup angin di pelataran perpustakaan kampus swasta nomor wahid di Surabaya yang membikin mahkota tapi bukan mahkotanya tambah kusut tak menentu sebab sudah tiga kali dia membatalkan niatnya untuk meluruskan, bukan rebonding tapi smoothing sebab hasilnya jauh lebih bagus, rambutnya.

Dia menentang segala pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan kawan-kawannya dengan bibir terangkat ngakak soal bagaimana mungkin sang dewasa muda tak punya niat adiluhung untuk membeli novel asli penulis yang katanya pujaan hatinya itu. Cuih, mengapa hanya difotokopi hitam putih dan betapa tak cocok tindakan sang dewasa muda yang sering tampak sok idealistis itu kok malah memfotokopi alias, penuh penekanan mereka bilang ini, membajak karya agung penulis pujaannya. Cuih, mereka mencibir se-hingga membuat Anita membusung jengkel, menentang.

Lebih menentang lagi tat kala empat kawan karib musuh di dunia perburuhan, sering kali juga perburuan, tulis menulis media tengik itu tetap ngakak ketika diberi tahu dialiri informasi membangun bahwa novel yang diterbitkan pada 1991 itu tak lagi dicetak ulang; sehingga manalah mungkin Anita yang dewasa muda itu membelinya dalam kondisi kinclong dari toko QB Bookstore sekalipun (yang sayangnya sudah tutup sekarang) atau Kinokuniya yang di Singapura itu yang gerainya tak jauh dari rumah-rumah cantik perayu nyonya nona fashionista dengan produk hedon modernnya seperti Mango, Louis Vuitton, atau Dolce and Gabbana.

Jangan sarankan Anita untuk pergi ke Jalan Semarang atau Pasar Blauran gudangnya buku bekas di Suroboyo, sebab usaha-usaha semacam itu sudah dia lakukan dan hasilnya zero nihil kosong bulat-bulat. Novel itu jelas tidak dicetak ulang, maka adalah sebuah ke-bodohan yang teramat sangat bahkan mengandung dosa kecil pula, apabila Anita yang dewasa muda itu mau sedikit cermat memahami definisi dosa yakni mengingkari hati nu-raninya, apabila dia tak lekas mengambil buku di perpustakaan kampus non-negeri nomor wahid itu dan memfotokopinya dengan bantuan alias campur tangan via jalan belakang ibu wakil kepala hubungan masyarakat teman baiknya yang selalu mengundangnya untuk datang meliput tetek bengek prestasi dan kegiatan kampus non-negeri itu.

Maka dari dan oleh sebab itu Anita yang dewasa muda dengan rambut keriting semri-wing ditiup angin harus memfotokopi karya sang Romo yang sebetulnya telah dia baca dahulu pada 2000 ketika dia masih duduk di bangku SMA. Biar teman tapi musuh dan pesaing itu mencibir dan mengakak atau melolong panjang, tak peduli setan!

Dan yah yah yah biar saja mereka menertawai Anita sang dewasa muda yang pada akhirnya menculik Durga Umayi dari rak buku perpustakaan kampus non-negeri nomor wahid yang di sana sini lalu lalang noni-noni bermata sipit berkulit putih dengan rambut keperakan dan merah marah itu. Biar saja tak peduli setan!

Kebiasaan memfotokopi buku-buku, kalau lazim dibilang kebiasaan meskipun toh se-betulnya Anita tak terbiasa tapi terpaksa lantaran tak ada pilihan lain jadi entahlah apakah lebih tepat disebut kebiasaan atau keterpaksaan putuskan saja sendiri, sudah dilakukan Anita sang dewasa muda sejak tahun-tahun silam ketika dia masih merasa lebih pas di-panggil gadis.

Sebut saja itu kumpulan literatur klasik milik dosennya yang di dalamnya ada cerita milik Flannery O Connor yang judulnya A Good Man is Hard to Find, yang maha betul sekali cerita itu memang dan oh memanglah teramat sulit menemukan orang baik, juga drama Waiting for Godot karya Beckett. Dan belum lagi itu buku-buku linguistik semisal Syntax, Morphology, Introduction to Linguistic, sampai Phonology yang cuma difotokopi dan tak pernah dibaca sebab melulu berbicara soal lidah bagian mana yang mampu meng-hasilkan bunyi peh atau beh. Bah! Membosankan sekali tapi toh tetap dikopi demi lulus mata kuliah macam-macam beh-peh itu dan dapat diwisuda tepat waktu dan cepat kerja tak usah lagi membayar uang kuliah.

Lagipula siapa bisa membeli buku aslinya dari tanah Ratu Elizabeth atau Rahwana Bush yang jauhnya minta ampun itu. Yang oleh sebab lantaran jauh itulah, memakan te-kanan, daya, dan kecepatan yang lebih pula, sehingga semua ongkosnya tak mungkin lagi berlabel Rp, Rupiah, melainkan dollar yang tak mungkin anak kuliahan di kampus negeri serba murah bakal mampu meng-afford-nya. Bagaimana mungkin Anita dan kawan-kawan tengil penggemar bakso perpustakaan membeli buku asli berbayar dolar dengan gambar Presiden Ulysses S. Grant yang menatap penuh arti ready to go di antara tulisan 50 Federal Reserve Note itu?

Nee, nee, nee, susah bin sulit menunggu datangnya presiden United States of America ke-18 itu untuk sekadar mendapatkan sebuah buku asli non-fotokopi; bisa-bisa Anita dan kawan-kawan gank Basecamp tak lulus-lulus tetap mondok di kampus Oh Brawijaya Lu-hur Citanya itu sampai Pak Grant lenyap tatapan elegan nan misteriusnya, oh Tuhan ja-nganlah sampai!

 Jadi, mau tak mau sumarah saja budaya kopi-memfotokopi dilakukan Anita, dan dia yakin betul juga dikerjakan oleh semua anak kuliahan plus pekerja kantoran serta pe-gawai instansi pemerintahan, di negeri Indonesia Raya Merdeka ini. Dan maka sudah ba-rang tentu teramat sangatlah terlambat apabila empat kawan musuh pesaingnya itu me-nyindir-nyindir soal pembajakan, piracy, kriminalitas pengkopian buku.

Bagi Anita sang dewasa muda, fotokopi itu filosofinya panjang bermeter-meter dan tak pernah dihargai mati dengan ketokan palu sidang dok! kriminalitas. Betapa kurang bi-jaknya manusia apabila semena-mena mengatakan fotokopi adalah sebuah pembajakan yang merugikan sebab memperkosa hak cipta alias copyright yang diagung-agungkan lembaga Hak atas Kekayaan Intelektual itu.

Amatlah sangat tak bijak mencibir mesin fotokopi sebab hal itu sama artinya dengan menafikan usaha a smart man from America Mister Chester Carlson sang penemu mesin fotokopi yang invention-nya kemungkinan besar diilhami buah pikiran fisikawan Bul-garia Georgi Nadjakov yang dipublikasikan pada 1937 itu.

Tahu apa empat kawan soal penemuan mesin fotokopi yang dimulai pada 1938 itu yang serba ruwet memeras jeli-jeli otak dan keringat lengket Mister Amerika yang hanya mandi sekali dalam sehari itu. Mereka pasti tak tahu bagaimana Mister Chester Carlson berkutat di dapurnya membuat fotokopi pertamanya dari lempengan seng yang dilapisi sulfur dengan kata-kata fotokopian pertamanya ’’10-22-38 Astoria’’ yang meskipun ter-lonjak senang sebab berhasil toh akhirnya sang Mister harus sedih sebab ketika pene-muan itu berusaha dijual tak ada satu perusahaan pun yang tertarik sebab ruwet rumit proses kerjanya.

Tidak hingga Mister Chester Carlson bertemu dengan dua raksasa IBM and GE yang bahkan ketika itu tak percaya bahwa ada yang membutuhkan jasa mesin-mesin fotokopi; hey Carlson siapa yang hendak butuh mengkopi-kopi dokumen heh? tanya IBM dan GE ketus. Dan masih belum final pula hingga akhirnya Carlson bertemu dengan The Battelle Memorial Institute sebuah organisasi non-profit di Columbus, Ohio yang setuju untuk be-kerja bersama Carlson memperbarui proses kerja penemuannya. Eit, masih kurang sem-purna juga sebelum pada 1944 Carlson berkonsultasi dengan profesor ahli bahasa klasik dari Ohio State University, kampus di mana teman-teman sang dewasa muda kini menun-tut ilmu—oh Tuhan semoga Bee dan Tsui selalu doyan hamburger di sana—agar proses fotokopi itu janganlah dinamai electrophotography tapi xerography saja sebab maknanya jauh lebih tepat (dalam bahasa Yunani), yakni tulisan kering; sehingga akhirnya pada 1948 mesin pelaku xerography itu dipanggil xerox machines, yah kita tahu mesin itu akhirnya menjadi sebuah merek komersil hingga kita temui ribuan jenisnya di Indonesia Raya Merdeka.

Jadi manalah mungkin oh manalah mungkin Anita tidak menghargai bahkan menye-pelekan karya agung Mister Chester Carlson yang kerja mati-matian dengan keringat lengketnya itu dengan tak memfotokopi Durga Umayi yang paradoksal yang tak dicetak kembali itu. Tak peduli setan apabila memfotokopi, khususnya buku dan jurnal ilmiah, di berbagai negara maju dilarang dan bahkan di kampus-kampus Kanada yang dingin itu siapapun yang hendak fotokopi harus membayar royalti dulu untuk setiap lembarnya, betul syahdan setiap lembarnya; peduli setan!

Maka super gembira haha-hihilah Anita setelah memfotokopi Durga Umayi dengan sampul kaku berwarna coklat sebab warna abu-abu yang sesuai dengan buku aslinya tak tersedia di tempat fotokopian nomor sekian juta di jagat raya alam fana itu. Tak lupa pula ketika masih hangat-hangat kuku lembar pertama novel xerography-nya itu ditulisi sang dewasa muda sebuah kalimat wajib untuk buku-buku fotokopiannya: when you can’t find the ory just go with the copy; kalimat yang juga dia tuliskan di lembar judul The Tin Drum karya Gunter Grass setelah dikopi sekitar enam bulan lalu itu.

Persetan dengan royalti buku sebab bagaimana mau bayar royalti dengan kondisi negara berkembang kempis kehabisan udara akibat hutan-hutannya habis ditebang untuk bahan pembuat tisu pengelap pantat sehabis buang hajat ini. Aduh, aduh, tidaklah mung-kin! Hey, dan jangan coba-coba menggoda si dewasa muda dengan kalimatnya yang ori-sinal dia gagas sendiri itu: when you can’t find the ory just go with the copy. Masak yah masak dear God kalimat orisinal dari tangan sang dewasa muda dibilang bak representasi dildo saja, ih sungguh jijik menjijikkan.

Bagaimana mungkin sistem fotokopi disamakan dengan benda yang naudzubillah pal-su tak lucu itu dildo si sex toy buat mudi-mudi yang pingin begituan tapi belum punya pa-sangan. Kurang ajar benar teman kawan musuh saingan itu yang perlu dipukul pakai dil-do sekalian bila perlu sebab tak tahu aturan menyamakan hasil kerja keras yang terhormat nan pintar Mister Chester Carlson dengan benda naudzubillah jangan sampai dipakai itu.

Argumen keliru, keliru, keliru, bagaimana mungkin xerox machines disamakan de-ngan mainan dewasa, itu sungguh penghinaan besar maha besar; sekali lagi Anita be-rambut kusut menegaskan tak ada yang salah dengan memfotokopi, sebab bukankah ba-pak filsuf yang terhormat Aristoteles itu juga membenarkan bahkan mengakui kepositifan kopi-memfotokopi meskipun bertolak dengan pendapat bapak guru Plato yang ngeyel be-tul (dengan nada sedikit mencibir) bahwa apa yang dicipta seniman adalah sebuah peni-ruan atas dunia ide dan kenyataan, yah yah yah istilah mereka memang bukan xerography tapi mimesis, imitasi, yang intinya sama saja FOTOKOPI!

Sejalan betul dengan yang dibilang Goenawan Mohamad soal karya sastra puisi, cerpen, novel, atau apalah lagi work of art yang memang berulang tapi toh kita tak sadar seakan-akan mereka selalu saja baru fresh from the oven; termasuk ketika kita membaca itu sebaris puisi Sitor Situmorang Bulan di Atas Kuburan.

Sudahlah, jangan mimpi mendefinisikan fotokopi dengan dildo kalau tak ingin dicap sebagai penjajah; hahaha Anita terbahak merasa diri menang, tapi memang bolehlah dia terbahak sedemikian lebar dengan argumennya yang sangat sosialis serba ingin membe-baskan ilmu pengetahuan dari sangkar imperialiasme bentuk ketiga. Huh, mau apa kau sekarang? Bagaimana mungkin copyright tidak disebut sebagai imperialis penjajah ben-tuk ketiga di mana rakyat miskin jelata diminta membayar uang bergambar President Grant untuk menikmati sebuah buku?

Ingatlah sejarah kawan, mereka yang tercerahkan adalah mereka yang mampu mem-beli buku-buku tulisan tangan yang harganya ampun Tuhan mahal sekali membuat si pe-muda Skotlandia yang melarat tak sanggup membeli, membaca, menikmati, dan terce-rahkan; buku dan ilmu pengetahuan dijadikan komoditas. Untunglah orang Jerman berna-ma Johannes Gutenberg itu akhirnya menemukan mesin cetak yang membuat semua o-rang membaca, berdiskusi, mendebat, dan cerah; apa guna ilmu pengetahuan bila harus dipenjara dalam sangkar copyright yang dipertuan agung, ingatlah mereka yang tinggal di Pulau Marampit di Propinsi Sulawesi Utara sana; tak mungkinlah mereka berselancar menjelajah amazon.com dan memesan itu The Picture of Dorian Gray atau Blindness, tak mungkin! Jadi apa salahnya apabila mereka memfotokopi novel Oscar Wilde dan Jose Saramago ketika mereka menemukan lembaran-lembaran buku yang mungkin saja sudah menguning di perpustakaan sekolah mereka itu? (Aduh Tuhan semoga mereka sudah me-miliki mesin fotokopi di sana, dan oh tentu saja yang terpenting punya perpustakaan dulu dengan dua buku yang sungguh kickin’ ass itu).

Mesin cetak dan fotokopi adalah dua hal yang satu tunggal, pembebas, seperti apa itu yang dibilang Bung Karno soal hal-hal yang terus berulangan, l’histoire se repete, sejarah selalu berulang, history repeats itself, dari mesin cetak ke xerox machines; sebuah fenomena yang berulang, penggugatan atas pemenjaraan ilmu.

Fotokopi, dahulu posisinya bagi Anita ditempati mesin cetak, tak lain dan tak bukan is a hero, tepatnya si Robin Hood tampan yang baik hati yang membuka jendela ilmu dan pengetahuan anak-anak Pulau Marampit di Propinsi Sulawesi Utara yang tak mampu me-ngunduh google books (lihat, bahkan soft fotokopi di dunia maya sana jauh lebih canggih dan super duper up-to-date, tak malu kalian melihat itu bocah dan muda-mudi membaca versi adobe portable document format seri terakhir penyihir baik hati nan imut Harry Potter and The Deathly Hallows). Ia membebaskan, dan Anita sang dewasa muda tahu pasti itu, dan syahdan, copyright yang diagung-agungkan itu belum tentu juga diamini keagungannya oleh sang pemilik hak copyright sendiri, sang penulis pujaan hati Anita. Maka dia ganti mencibir kawan-kawannya demi kehakulyakinannya bahwa Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya bapak bocah-bocah lugu di Kali Conde itu akan dengan senyum ramah meminjami Durga Umayi orisinal miliknya dari lemari buku di balik meja bertaplak batiknya untuk dikopi, difotokopi!, oleh Anita.

Buku harus dapat dinikmati semua orang layaknya udara bebas the fresh air yang sayang sekali akhir-akhir ini kian cemar berkat cerobong-cerobong pabrik dan Adelin Lis. Makanya, ayo ayo kawan, fotokopi saja semua buku yang kau inginkan syahdan, lan-tang Anita bertutur, fotokopi saja itu semua karya Poe atau Carroll atau Dickens. Dan oh yah yah yah, sepertinya ini perlu ditegaskan oleh Anita si dewasa muda, bahwa kopi-mengkopi ini untuk urusan buku saja, menikmati alam raya magistis literatur saja, urusan lain perlu pembahasan lebih lanjut; sebab Anita si dewasa muda berambut kusut tertiup angin semriwing paling ogah dengan metode pukul rata. (*)

 

 


Monday, October 15, 2007

Syntax!!

William D. Davies Profesor Linguistik Iowa University yang Teliti Bahasa Madura

 

Bukukan Sintaksis Bahasa Madura, Juga Kumpulkan Cerita Rakyat Madura

 

Genap 12 tahun sudah William D. Davies, profesor linguistik dari the University of Iowa, Amerika Serikat (AS) meneliti bahasa Madura. Menelisik struktur kalimat atau sintaksis bahasa Madura ternyata begitu menarik baginya. Berkali-kali ke Madura, dia tak hanya membukukan soal bahasa. Davies juga mengumpulkan cerita rakyat Madura.

 

ANITA RACHMAN, Surabaya

 

WILLIAM D. Davies memulainya pada 1995. Kini, 12 tahun kemudian, 200 halaman bukunya telah penuh coretan soal sintaksis atau struktur kalimat bahasa Madura. Dan, lembaran setebal itu baru masuk pada bab tujuh. Davies berniat menulis 17 bab mengenai sintaksis bahasa Pulau Garam itu. ’’Mungkin nanti jadinya sekitar 500 halaman,’’ tuturnya saat berkunjung ke Graha Pena Jawa Pos Selasa (9/10) lalu.

Semuanya berawal dari pertemuannya dengan salah satu mahasiswa Indonesia di Universitas Iowa yang beristri seorang Madura. Dari merekalah Davies berkenalan dan lantas tertarik untuk mempelajari bahasa daerah itu. Pria berambut putih tersebut mengatakan dia memulai pelajaran bahasa Maduranya dengan pertanyaan-pertanyaan.

’’Misalnya bolehkah saya menggunakan kata ini, atau menyusun kalimat itu,’’ ungkapnya. Memang, penelitian mengenai bahasa selalu membuat Davies tertarik, tak terkecuali Madura. Pula di bagian Timur yang kala itu belum dia kunjungi. Dia tertarik untuk menemukan perbedaan dan persamaan bahasa tersebut dengan bahasa lain. Selain itu, Madura dipilih juga lantaran belum banyak disentuh oleh ahli linguistik.

Dia menuturkan, telah diterbitkan kamus dan buku mengenai bahasa Madura. Namun kamus ’’baru’’ diterjemahkan dalam bahasa Belanda. Satu buku soal bahasa Madura yang diterbitkan pada 1960-an juga ’’baru’’ menyentuh ranah phonologi. Maka, bakal buku Davies tersebut diyakini olehnya akan menjadi yang pertama, khususnya mengenai sintaksis bahasa Madura. ’’Saya kemari untuk mempermudah penulisan, agar apabila ada pertanyaan saya dapat langsung menanyakannya,’’ sambungnya.

Kunjungan Davies ke tanah air tahun ini tentu bukan kali pertama. Pada 2000, 2002, 2004, 2005, dan 2006 dia telah mengunjungi Madura dan beberapa kota lain, termasuk Surabaya. Lama kunjungannya mencapai dua minggu hingga tiga bulan. Kini dia ’’tinggal’’ di Jakarta untuk menyelesaikan penulisan bukunya.

Davies memanfaatkan setiap kunjungannya untuk berbicara langsung dengan penduduk asli. Dia telah mengelilingi Pulau Madura, walau basis penelitiannya adalah Bangkalan. Intensifnya penelitian tersebut membuatnya kian dekat dengan bahasa tersebut. Davies mengaku mengetahui banyak kata dalam bahasa Madura, dia pun tahu cara membacanya.

’’Saya hanya tak dapat menggunakannya untuk bercakap-cakap,’’ katanya. Maklum, kesempatan Davies untuk mempraktikkan bahasa tersebut di negerinya begitu tipisnya. Diapun baru benar-benar mendengar percakapan bahasa Madura yang ’’sesungguhnya’’ ketika dia menjejakkan kakinya di Madura pada 2000.

Pertemuannya dengan percakapan Madura yang ’’sesungguhnya’’ itu, menurut dia, terjadi biasa saja. Tak ada yang membuatnya kaget. Maka, dia sempat bertanya-tanya, mengapa setiap orang yang mengetahui bahwa dia meneliti bahasa Madura lantas terbengong-bengong. Salah satu pertanyaan yang beberapa kali dia terima adalah, apakah tak takut melakukan penelitian di daerah itu. ’’Kenapa mesti takut? Saya menikmati Madura. Orang-orangnya begitu menyenangkan,’’ sambungnya.

Orang-orang yang menyenangkan itulah yang membawa Davies lebih dalam lagi menjelajah Madura. Ketertarikannya melebar. Dia tak hanya getol meneliti bahasa, dia pun jadi tertarik dengan sisi lain Madura: cerita rakyatnya. Davies dibantu penduduk asli mengumpulkan cerita rakyat Madura yang terserak dan mulai jarang ditemui. Dia mengatakan telah mengumpulkan sekitar 23-25 cerita rakyat.

Di antaranya adalah Kelahiran Joko Tole, Raden Segara, serta beberapa cerita lain yang berkisah mengenai raja dan ratu. Pada 2005-2006, dia melakukan rekaman berbentuk video dan audio recording di Surabaya. Kisah tersebut juga dituliskan dalam bentuk buku. ’’Sebenarnya rekaman pertama kali dilakukan di Madura pada 2004, kondisinya kurang mendukung. Kami menggunakan bahasa Madura,’’ katanya.

Baru setelah itu cerita-cerita tersebut dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Tentu, dalam penelitiannya tersebut dia memerlukan banyak dana. Beruntung dia mendapatkan banyak grant dari beberapa pihak, sehingga memungkinkan dirinya untuk terus menggali ilmu dan menularkannya pada yang lain. Ilmunya tersebut kini memang telah menyebar.

’’240 mahasiswa S-1 saya tahu apa itu artinya maca (membaca dalam bahasa Madura, Red),’’ katanya. Davies menggunakan bahasa Madura sebagai salah satu contoh dalam mata kuliah Languages of the World di Universitas Iowa. Langkah Davies tentu tak berhenti di situ. Ilmu tersebut juga akan segera dibagikan kepada seluruh periset linguistik di penjuru dunia lewat bukunya yang diperkirakan rilis pada 2009. Davies men-deadline bukunya rampung ditulis pada Agustus 2008. (*)

 


Saturday, June 09, 2007

Indonesia Jo -- FFS

fss-3

Sudjiwo Tedjo Indonesia Jo!

he’s a good performer, oh well--okie--, maybe i should say that he is a very good performer still. energetic, funny, and "alarming" somehow (in his very own way’s of rolling his eyes, haha). his performance was good and his band was amazing. i enjoy the music (and got a time to sway my hips, ahaha *a good audience mode on*). he’s goin into jazz now, which is good. i think he should take a very serious training in trumpet, he’s talented.

 

Indonesia Jo! uhm.. not an everyone album tho. so critical and unfriendly, hehe. but I like it. because we cant count on iwan fals anymore, can we? someone should speak it and why not tedjo then?

 

>> harapan masih ada, masih terus ada

 

then…

 

>> presiden, yaiyo yaioyo iyaiyo

 

and…

 

>> fabel. elephant is the ministry of social, rat of industries, and… so on. and we have a very animal's country.

 

sometimes i feel as sad as him. but then I cant do anything. nothing. maybe he can help, tru his music? i feel small!

 


Saturday, June 02, 2007

FFS 2007 -- Slamet Gundono and Komunitas Wayang Suket

ARA PANDAAN

I will just review slamet gundono, and NOT the fss itself. Coz, yeah, everyone knows, it was awful.

  1. The opening ceremony: sucks
  2. The mc: needs more preparations (don’t make urself look stupid, u’re the ning surabaya!)
  3. The ketua panitia: refers to his speech, PAYAH, KAMPUNGAN, MURAHAN.
  4. The arranging of the chairs: TERRIBLE!!!! So, so poor!!!

SLAMET GUNDONO DAN KOMUNITAS WAYANG SUKET

Thank god the board chose him as the first performer (penyaji) of the twelfth festival seni surabaya (fss). it was utterly a very right decision. we deserve a great opening, and so does he, slamet gundono, deserves our first round of applause. im not saying that he's the best, tho. coz we still have 14 days to go. bunch of penyaji to enjoy (including the "dead-penyaji": paintings, installations, and prose).

But, slamet gundono is still smart, very sensitive, and hell, critical. he can still dance and produce the "sounds". sounds of everything. the wayang and the modern world--what a perfect combination--of "tanah air dari pasir". and i love the musics! (so proud of being javanese this time, haha)

What did the combination tell the me? it told me slamet's worry, of women. women's today. women's of his country, of his island, java. women who abandoned her children and family. escapee women. he wanted to find medicines for them, to germany. but he didnt find one. he flew over to frankfurt and found nothing, but another runaway woman, uma (the most beautiful goddess), who was making love in a pass room with an 18 yo boy in a four floors mall. it was shocking for him and so was for indra (uma's husband).

But the "si-mbok" was there, too, asking: why would uma do that? what have indra done? what have men done? polygamy? excessive unfair deed?

Slamet gundono cried. but indra got angry. what have women done? they runaway from lovely men or devils? indra should ask himself: what have i fucking done?

Buddy, you know the answer, dont you? let him (and other hims) hear it! (*)

 


Sunday, April 15, 2007

CatTIn9 (CATatan Tak pentING =p)

Amplop

 

TIDAK ada yang tetap, semua berubah. Yang tetap cuma ketetapan perubahan dan perubahan ketetapan. Kalimat-kalimat itu ditulis oleh Tan Malaka dalam bukunya, yang digilai kaum marxis tanah air, Materialisme Dialektika Logika (Madilog). Pria jenius yang kecewa terhadap Islam itu sedang mengulas unsur atom dan partikelnya, tapi sudah barang tentu dia juga menyindir hidup.

Saya percaya apa yang dikatakan Tan Malaka benar. Seperti juga kepercayaan saya akan pergeseran definisi jurnalis menjadi wartawan atau reporter adalah sahih. Definis jurnalis sejatinya bergeser. Kala itu yang disebut jurnalis adalah mereka yang menulis jurnal-jurnal ilmiah, untuk kemudian diterbitkan dalam bahasa dan model yang formal. Seperti Charles Dickens.

Seiring almanak berganti, terutama pada abad ke 19, istilah itu melebar. Jurnalis tak hanya mereka yang menulis jurnal, tapi juga mereka yang mempraktikkan (apa yang kemudian disebut) ilmu jurnalistik. Jurnalis adalah mereka yang mengumpulkan data dan lantas menuliskannya dalam sebuah tulisan. Mereka tak dibatasi tembok dalam bekerja, tak juga diikat dasi atau rok mini saat bertugas, atau diatur untuk menyantap makan siang mulai pukul 12.00 hingga 13.00. Jurnalis adalah mereka yang bebas.

Namun bukan kebebasan absolut yang mereka punya; jurnalis yang tak perlu memakai dasi dan rok mini saat bekerja itu diikat sebuah ikrar berbentuk kode etik: benar, jujur, berimbang, serta beretika. Yang terakhir adalah bukan sembarang kode. Etika datangnya jauh dari kata ethikos milik Yunani yang berarti moralitas, cabang dari ilmu filsafat, yang berkaitan dengan sifat baik, buruk, serta tanggung jawab. Jurnalis, yang boleh makan siang pukul 10.00 atau mandi pukul 13.00, adalah mereka yang diminta beretika.

Seperti Graham Green atau Hemingway, jurnalis yang juga novelis, bebas merokok pukul 11.05, atau buang air besar pukul 13.35, menguap pukul 14.20, dan tetap beretika sepanjang hari. Di suatu tempat bernama Amerika Serikat, segala sesuatunya selalu tampak serba mudah dan murah. Bertolak dengan alam Pertiwi, di mana masih sering kita jumpai lalat berpantat hijau hinggap di sedotan es teh kita, segalanya serba susah dan mahal, tak terkecuali etika. Satu-satunya kekang seorang jurnalis.

Seperti siang itu, ketika saya melihat tali-tali etika dilepaskan oleh satria-satria pena, demi sebuah amplop.

Sungguh, bagai menyaksikan drama, lagi-lagi saya terperangah (walau saya sudah sering menghadapinya) dengan prosesi amplop. Kejadiannya acap kali berlangsung lama namun rapi. Saya dapat membaca alur dan adegan pembukanya, lantas konflik, klimaks, hingga antiklimaksnya. Seperti siang itu, di sebuah instansi milik pemerintah (yang juga berarti kepunyaan rakyat) di mana semua orang memakai setelan berwarna cokelat, dan menunduk-nunduk pada seorang pria yang juga bersetelan cokelat dan memakai plakat nama.

Siang itu, mulanya, kami ngobrol biasa saja. Kami berbincang tentang jumlah ini di propinsi ini, dan dana untuk melakukan itu di daerah itu, lalu tujuan melakukan kegiatan tersebut serta capaian yang dimaksud. Kami mendengar dan mencatat, sesekali menengok ke arah Bapak Bersetelan Cokelat penuh perhatian. Di pulau bagian timur ini, memang hanya dia yang punya data semacam rupa.

Berselang cukup lama, cangkir-cangkir teh lantas disuguhkan, kami diminta dengan hormat untuk menenggaknya. Sampai seorang pria berkumis, juga bersetelan cokelat, lantas berdiri dan mencatat. Mengamati kami para kuli tinta dengan seksama. Di bukunya, dia menuliskan nama dan angka, lalu menerawang menghitung. Ini adalah opening, yang membikin perut mual.

Sepuluh menit kemudian adegan mulai berirama. Guyonan-guyonan kering mengalir dari Bapak Bersetelan Cokelat. Dan para kuli pun tertawa renyah, menertawai guyonan Sang Bapak yang tak lucu. Tentang kesukaannya pada singkong dan kacang-kacang tanah yang direbus. Seorang kawan berkomentar, memuji Sang Bapak yang tetap rendah hati: meski sudah tinggi jabatan, tak hilang pula kesukaan pada makanan tanah. Rising Act.

Bapak Bersetelan Cokelat masih berbicara, saat lima menit kemudian kawan bersandal berpamitan pulang. Ada urusan penting sedang menunggu di luar sana, tuturnya. Bapak lantas melirik Pak Kumis, matanya berkedip. Itu sebuah kode, sebuah perintah: lepas kekangnya.

Ini konflik. Pak Kumis maju ke depan, sedikit berlari mengejar kawan. Amplop panjang berwarna coklat merangsek masuk ke dalam tas kawan bersandal. Sekilas aksi penolakan berlangsung, meski (tentu saja, Tuhan) gagal. Pak Kumis berhasil melepas tali kekang kawan bersandal. Seulas senyum dan anggukan Pak Kumis membuat mata Sang Bapak bersinar.

Kawan bersandal sudah di seberang pintu, tapi telinganya mungkin masih menangkap suara. Derak-derak sepatu Pak Kumis ketika berkeliling ruangan sambil membagi amplop panjang berwarna cokelat. Dia menjatuhkan amplop sambil menutup mata. Mereka yang menerima hanya membuka mulut, lantas mengatupkanya kembali. Terdengar seulas ucapan: terima kasih.

 

Ini anti klimaks. Ritual tahu sama tahu.

 

Tali-tali kekang sudah terlepas. Mata-mata saling memandang. Saya dan dia yang menolak, dan mereka yang berterima kasih. Mata-mata tetap saling memandang.

 

Semuanya telah bergeser. Dan Tan Malaka tak salah. Semuanya berubah.

 

Saya tak pernah membaca buku kode etik, mungkin begitu juga dengan kawan bersandal. Tapi tak tahukah kawan bersandal, bahwa kekang tak boleh lepas dari pundak. Karena kekang adalah jelmaan objektivitas. Kekang adalah rakyat dan amanat. Kekang adalah dialog yang utuh.

Ah, terlalu muluk saya berharap, agar kawan bersandal melihat rona merah di pipi saya ketika amplop menjejal masuk ke dalam ranselnya. Adalah mimpi meminta Tan Malaka menulis: ada yang tak pernah berubah dari dunia. Para kuli tinta yang selalu sigap menggendong kekang. Para kuli tinta yang selalu menjaga etika. Adalah mimpi. (anita rachman)

           

>> somewhen in January, when i felt so undersized and embarrassed.

 



Next 5 >>

YuPi, iAm LisTeNiG!!

Free Website Counter
Web Site Counter